{"id":597,"date":"2024-08-27T08:11:51","date_gmt":"2024-08-27T01:11:51","guid":{"rendered":"https:\/\/ruangwawasan.id\/ruang_wp\/?p=597"},"modified":"2024-08-17T12:13:54","modified_gmt":"2024-08-17T05:13:54","slug":"para-bunda-wajib-tahu-penyebab-bayi-lahir-kuning-salah-satunya-kista-duktus-koledokus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ruangwawasan.id\/ruang_wp\/2024\/08\/27\/para-bunda-wajib-tahu-penyebab-bayi-lahir-kuning-salah-satunya-kista-duktus-koledokus\/","title":{"rendered":"Para Bunda Wajib Tahu Penyebab Bayi Lahir Kuning: Salah Satunya Kista Duktus Koledokus"},"content":{"rendered":"<p><strong>PONTIANAK, insidepontianak.com\u00a0<\/strong>&#8211; Para bunda mari merapat. Tahukah bunda bahwa salah satu penyebab\u00a0<a class=\"text-danger tagging\" href=\"https:\/\/insidepontianak.com\/tag\/bayi%20lahir%20kuning\">bayi lahir kuning<\/a>\u00a0adalah adanya kelainan bawaan langka pada saluran empedu yang disebut kista duktus koledokus.<\/p>\n<p>&#8220;Itu penyakit bawaan yang bersifat kongenital, karena terjadi pelebaran bentuk kistik pada duktus bilier pada saluran empedu,&#8221; katanya dalam diskusi kesehatan yang diikuti secara daring dari Jakarta, belum lama ini.<\/p>\n<p>&#8220;Semua orang punya empedu, dari anak punya saluran empedu, pada proses pembentukan janin ada kelainan saat pertumbuhan, ini namanya kista duktus koledokus,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan bahwa secara fisiologis bayi bisa lahir dalam keadaan kulitnya menguning pada hari ketiga setelah dilahirkan.<\/p>\n<p>Dalam keadaan normal, kulit kuning pada bayi dalam waktu satu minggu bisa hilang\u00a0dengan terapi sinar biru atau rutin dijemur sinar matahari.<\/p>\n<p>Pada bayi yang mengalami kelainan kista duktus koledokus, kulit yang menguning bertahan sampai dua minggu setelah kelahiran, dan disertai gejala lain seperti benjolan pada perut kanan atas akibat pembesaran kista dan\u00a0infeksi.<\/p>\n<p>Kshetra\u00a0menjelaskan, kelainan posisi saluran empedu dan pankreas pada janin membuat enzim pankreas\u00a0masuk ke saluran empedu, sehingga muncul kista, benjolan berisi cairan empedu.<\/p>\n<p>&#8220;Sampai saat ini kita enggak tahu penyebabnya sehingga enggak bisa menyarankan apa yang harus dihindari atau ditambahkan. Jadi, murni kelainan bawaan pada saat proses pembentukan janin, yang penting bisa ditangani,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Guna mencegah keparahan kista pada saat bayi lahir, Kshetra mengatakan, kista duktus koledokus.<br \/>\ndapat dideteksi dini dengan melakukan pemeriksaan\u00a0USG fotomaternal lebih detail agar dokter bisa menemukan kista pada perut bayi.<\/p>\n<p>Menurut dia, pemeriksaan\u00a0USG untuk mendeteksi kista bisa dilaksanakan saat kehamilan memasuki trimester ketiga.<\/p>\n<p>Setelah bayi lahir, ia mengatakan, kista duktus koledokus\u00a0dapat ditangani dengan melakukan operasi kecil laparoskopi untuk mengangkat kista.<\/p>\n<p>Kshetra\u00a0menyarankan operasi dilakukan saat kista masih kecil guna mencegah komplikasi setelah dewasa.<\/p>\n<p>&#8220;Operasi pada saat kista kecil dan pasien lebih sehat jauh lebih mudah, operasi bisa laparoskopi, dengan sayatan kecil itu bisa kita angkat,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau dibiarkan lama, kista bisa membesar dan operasi jauh lebih susah karena sudah nempel dan enggak bisa diangkat bersih,&#8221;\u00a0ia menambahkan.<\/p>\n<p>Dia mengatakan, pengangkatan kista pada bayi akan meningkatkan kualitas hidup anak dan meminimalkan risiko komplikasi lain seperti kerusakan hati setelah dewasa. (ANT)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PONTIANAK, insidepontianak.com\u00a0&#8211; Para bunda mari merapat. Tahukah bunda bahwa salah satu penyebab\u00a0bayi lahir kuning\u00a0adalah adanya kelainan bawaan langka pada saluran&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":598,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[31,7,12],"tags":[],"class_list":["post-597","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-kesehatan","category-tips"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ruangwawasan.id\/ruang_wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/597"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ruangwawasan.id\/ruang_wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ruangwawasan.id\/ruang_wp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ruangwawasan.id\/ruang_wp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ruangwawasan.id\/ruang_wp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=597"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ruangwawasan.id\/ruang_wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/597\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":599,"href":"https:\/\/ruangwawasan.id\/ruang_wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/597\/revisions\/599"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ruangwawasan.id\/ruang_wp\/wp-json\/wp\/v2\/media\/598"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ruangwawasan.id\/ruang_wp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=597"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ruangwawasan.id\/ruang_wp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=597"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ruangwawasan.id\/ruang_wp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=597"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}